Hari ini aku mulai berfikir untuk menyerah kembali. Alasanya simple. Dia bukan orang yang sesuai. Pertama ada sedikit keraguan ketika aku menulis postingan ini. Tapi aku yakin ini cara terbaik untuk melampiaskan hasrat yang terpendam ketimbang marah-marah atau me-retweet dan me-reply, apalgi kirim SMS atau telpon.
Dari awal melihat nama akun Facebook, entah mengapa, sudah ada firasat buruk. Dan ada satu kalimat yang ingin aku ucapkan ketika itu, yaitu "Dia bakal jadi duri dari hubungan kita". Tapi, ya, karena sebelumnya sudah sering bermasalah dengan keakrabanya kepada orang lain, aku membiarkanya saja. Aku fikir, semoga semua memang hanya sebatas prasangka dan praduga yang tidak benar. Tapi ternyata semuanya salah. Semua salah dan dugaan ini benar.
Dia selalu bersikukuh bahwa lelaki itu menghormati aku sebagai pacarnya. Jujur, itu membuat aku muak. Menurutku, dan mungkin menurut kalian juga, seorang lelaki yang baik pasti tidak akan menembak pacar orang.
Aku bisa merasakan itu. Ya. Merasakan benih-benih cinta diantara mereka. Ini bagus untuknya yang mungkin mulai merasa bosan denganku. Tapi jujur saja, ini sama sekali tidak bagus buatku dalam segi apapun. Aku sudah terlalu sayang dan sudah terlalu banyak berkorban. Apakah itu belum cukup untuknya?
Kami kadang berantem untuk hal-hal yang sama. Aku cemburu dengan keakrabanya kepada orang lain. Dia benar-benar tidak bisa menempatkan posisinya sebagai pacarku. Ia memanggil orang lain dengan sebutan sayang, emotikon kiss, dan masih banyak lagi. Ayolah, jika kau menganggap itu sebatas emotikon, lalu apa bedanya dengan aku.
Awal kemuakan bermula ketika ia dengan santainya memanggil papah mamah dengan laki-laki itu. Laki-laki brengsek inilah sumber kekacauan dari semuanya. Apakah hanya dia? Tidak juga. Dulunya ada banyak. Arya, SuperGT, Brian, Yoga, Maulana, dan ah entahlah masih banyak yang lain.
Kesulitan mempertahankan hubungan dimulai dari dia yang belum bisa membuka hati sepenuhnya paska diputuskan pacarnya bernama Yoga. Mereka sudah menjalin hubungan jarak jauh, Surakarta-Bogor, selama satu tahun lebih. Cukup lama bukan? Ya, cukup lama. Bahkan saking lamanya, di awal hubungan kami sering berantem.
Tapi fokus tulisan curhat ini bukan terletak disitu. Semua kembali lagi, ketika dia mulai mengajak chat lelaki itu. Aku sedikit heran, tapi belakangan tidak juga. Aku baru mengingat latar belakang lelaki itu yang merupakan pemain gitar di band-nya. Mereka sama-sama penyuka musik, dan mungkin juga dia dapar rekomendasi dari teman dekatnya bernama Arya karena kesuhkan kesamaan mereka.
Baiklah, sekarang semuanya di-skip saja. Mereka pada intinya sudah sangat dekat. Aku tidak tau sudah sedekat apa. Tapi aku bisa menduga disaat seorang lelaki mengatakan cinta, pasti itu sudah sangat dekat. Aku sudah berulangkali mengatakan kepadanya agar membatasi komunikasi tapi dia tetap ngeyel. Dia memang selalu ingin menang sendiri. Dia mengakuinya secara terang-terangan bahwa lelaki itu ada disaat dia membutuhkan ku tapi aku tidak ada. Aku tau dia memiliki banyak kelebihan dibanding itu, tapi jujur aku muak membahasnya. Aku lebih senang membahas hal-hal detail seperti kelakuan mereka berdua.
Aku sejak awal sudah yakin di PHO, pengganggu hubungan orang. Tapi dia keukeuh tidak. Lucu memang. Tapi pada kenyataanya, dia masih saja menjalin komunikasi secara intens. Apakah chemistry itu mulai terjalin diantara mereka? Jujur saja aku katakan iya.
Kami lebih sering berantem karena dia daripada yang lain. Disaat aku meminta dia berhenti bersayang-sayang, papah mamah segala macam, dia mengiyakan. Tapi kenyataanya? Tetap saja!
Dia bilang kalau lelaki itu tetap ingin memnggil mamah dan ia menerima saja. Lalu apa bedanya dengan panggilan ayah bunda yang kami lakukan?
Inilah saatnya aku menyerah. Dia sudah cinta kepada lelaki itu, sedangkan hubungan kami semakin memburuk. Terakhir, tadi siang, ia kecewa karena aku kuliah dan tidak bisa menemuinya untuk memberikan sekedar uang untuk ongkosnya. Seharian ini Twitternya dipenuhi retweet, mention namanya untuk hal-hal romantis, dan ah entahlah. Ia juga kabarnya akan mendapat boneka. Dalam rangka apa? Jika kutanyakan ini, ia pasti balik cemberut. Jadi bodo amat.
Intinya aku sudah menyerah. Aku sudah berkorban terlalu banyak. Tidur larut malam menemani dia telepon, pulang malam, mengantar ke Bogor naik KRL yang begitu padat, meluangkan waktu, semuanya. Apa aku perhitungan? Tidak! Itu karena aku sudah terlalu sayang.
Sekarang aku akan mulai membereskan hatiku, dan dia juga sudah mulai bisa membuka hati kepada lelaki itu tanpa hadanganku. Kalian bebas sekarang. Aku tidak tau seberapa sering dan seberapa romantis telepon atau sms dan chat kalian. Aku tidak tau dan tidak mau tau. Kau boleh menangis mengenai "kejam"-nya diriku kepada lelaki itu. Tapi kau harus tau, akulah yang tersakiti.
Rasa itu sudah hambar, digantikan cinta kalian. Pergi sajalah, aku tidak apa-apa.
Dari awal melihat nama akun Facebook, entah mengapa, sudah ada firasat buruk. Dan ada satu kalimat yang ingin aku ucapkan ketika itu, yaitu "Dia bakal jadi duri dari hubungan kita". Tapi, ya, karena sebelumnya sudah sering bermasalah dengan keakrabanya kepada orang lain, aku membiarkanya saja. Aku fikir, semoga semua memang hanya sebatas prasangka dan praduga yang tidak benar. Tapi ternyata semuanya salah. Semua salah dan dugaan ini benar.
Dia selalu bersikukuh bahwa lelaki itu menghormati aku sebagai pacarnya. Jujur, itu membuat aku muak. Menurutku, dan mungkin menurut kalian juga, seorang lelaki yang baik pasti tidak akan menembak pacar orang.
Aku bisa merasakan itu. Ya. Merasakan benih-benih cinta diantara mereka. Ini bagus untuknya yang mungkin mulai merasa bosan denganku. Tapi jujur saja, ini sama sekali tidak bagus buatku dalam segi apapun. Aku sudah terlalu sayang dan sudah terlalu banyak berkorban. Apakah itu belum cukup untuknya?
Kami kadang berantem untuk hal-hal yang sama. Aku cemburu dengan keakrabanya kepada orang lain. Dia benar-benar tidak bisa menempatkan posisinya sebagai pacarku. Ia memanggil orang lain dengan sebutan sayang, emotikon kiss, dan masih banyak lagi. Ayolah, jika kau menganggap itu sebatas emotikon, lalu apa bedanya dengan aku.
Awal kemuakan bermula ketika ia dengan santainya memanggil papah mamah dengan laki-laki itu. Laki-laki brengsek inilah sumber kekacauan dari semuanya. Apakah hanya dia? Tidak juga. Dulunya ada banyak. Arya, SuperGT, Brian, Yoga, Maulana, dan ah entahlah masih banyak yang lain.
Kesulitan mempertahankan hubungan dimulai dari dia yang belum bisa membuka hati sepenuhnya paska diputuskan pacarnya bernama Yoga. Mereka sudah menjalin hubungan jarak jauh, Surakarta-Bogor, selama satu tahun lebih. Cukup lama bukan? Ya, cukup lama. Bahkan saking lamanya, di awal hubungan kami sering berantem.
Tapi fokus tulisan curhat ini bukan terletak disitu. Semua kembali lagi, ketika dia mulai mengajak chat lelaki itu. Aku sedikit heran, tapi belakangan tidak juga. Aku baru mengingat latar belakang lelaki itu yang merupakan pemain gitar di band-nya. Mereka sama-sama penyuka musik, dan mungkin juga dia dapar rekomendasi dari teman dekatnya bernama Arya karena kesuhkan kesamaan mereka.
Baiklah, sekarang semuanya di-skip saja. Mereka pada intinya sudah sangat dekat. Aku tidak tau sudah sedekat apa. Tapi aku bisa menduga disaat seorang lelaki mengatakan cinta, pasti itu sudah sangat dekat. Aku sudah berulangkali mengatakan kepadanya agar membatasi komunikasi tapi dia tetap ngeyel. Dia memang selalu ingin menang sendiri. Dia mengakuinya secara terang-terangan bahwa lelaki itu ada disaat dia membutuhkan ku tapi aku tidak ada. Aku tau dia memiliki banyak kelebihan dibanding itu, tapi jujur aku muak membahasnya. Aku lebih senang membahas hal-hal detail seperti kelakuan mereka berdua.
Aku sejak awal sudah yakin di PHO, pengganggu hubungan orang. Tapi dia keukeuh tidak. Lucu memang. Tapi pada kenyataanya, dia masih saja menjalin komunikasi secara intens. Apakah chemistry itu mulai terjalin diantara mereka? Jujur saja aku katakan iya.
Kami lebih sering berantem karena dia daripada yang lain. Disaat aku meminta dia berhenti bersayang-sayang, papah mamah segala macam, dia mengiyakan. Tapi kenyataanya? Tetap saja!
Dia bilang kalau lelaki itu tetap ingin memnggil mamah dan ia menerima saja. Lalu apa bedanya dengan panggilan ayah bunda yang kami lakukan?
Inilah saatnya aku menyerah. Dia sudah cinta kepada lelaki itu, sedangkan hubungan kami semakin memburuk. Terakhir, tadi siang, ia kecewa karena aku kuliah dan tidak bisa menemuinya untuk memberikan sekedar uang untuk ongkosnya. Seharian ini Twitternya dipenuhi retweet, mention namanya untuk hal-hal romantis, dan ah entahlah. Ia juga kabarnya akan mendapat boneka. Dalam rangka apa? Jika kutanyakan ini, ia pasti balik cemberut. Jadi bodo amat.
Intinya aku sudah menyerah. Aku sudah berkorban terlalu banyak. Tidur larut malam menemani dia telepon, pulang malam, mengantar ke Bogor naik KRL yang begitu padat, meluangkan waktu, semuanya. Apa aku perhitungan? Tidak! Itu karena aku sudah terlalu sayang.
Sekarang aku akan mulai membereskan hatiku, dan dia juga sudah mulai bisa membuka hati kepada lelaki itu tanpa hadanganku. Kalian bebas sekarang. Aku tidak tau seberapa sering dan seberapa romantis telepon atau sms dan chat kalian. Aku tidak tau dan tidak mau tau. Kau boleh menangis mengenai "kejam"-nya diriku kepada lelaki itu. Tapi kau harus tau, akulah yang tersakiti.
Rasa itu sudah hambar, digantikan cinta kalian. Pergi sajalah, aku tidak apa-apa.